Flash Message

Minggu, 04 Desember 2011

Level Gas Rumah Kaca Tembus Rekor

Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menembus rekor, dengan konsentrasi karbon dioksida (CO2) meningkat sebesar 39 persen sejak permulaan jaman industri di tahun 1750. Demikian pernyataan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Senin (21/11/2011).
Gambaran konsentrasi gas rumah kaca yang dikembangkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) berdasarkan kondisi tahun 2010 menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 mencapai 389 bagian per juta, meningkat dari 280 bagian per juta pada 1750.
Deputi Sekertaris Jenderal WMO, Jeremiah Lengoasa, mengungkapkan bahwa emisi CO2 menyumbang 4/5 persen dari kenaikan konsentrasi gas rumah kaca. Tapi ia mencatat adanya perbedaan antara apa yang diemisikan ke atmosfer dan dampaknya pada iklim.
"Dengan gambaran ini, bahkan jika emisi dihentikan dari seluruh dunia, kondisi atmosfer akan tetap berlanjut seperti itu selama puluhan tahun sebab lamanya gas rumah kaca bertahan di atmosfer," kata Lengoasa seperti dikutip AP, Senin.
Para ahli mengatakan, Bumi akan mengalami dampak terburuk akibat perubahan iklim jika konsentrasi gas rumah kaca telah mencapai 450 bagian per juta. Meski demikian, ada beberapa ahli yang menjelaskan bahwa level 350 bagian per juta sudah buruk, dan kini sudah terlampaui.
WMO juga menyatakan bahwa antara tahun 2009 - 2010 saja, konsentrasi CO2 meningkat 2,3 bagian per juta. Hasil tersebut menunjukkan peningkatan percepatan dari sebelumnya 1,5 bagian per juta setiap tahunnya pada 1990an.
WMO juga mencatat bahwa selain CO2, konsentrasi nitrogen oksida naik sebesar 20 persen dan konsentrasi metana naik 158 persen sejak tahun 1750. Bahan bakar fosil, deforestasi dan penggunaan pupuk dituding sebagai penyebab utama.

keefektifitasan efek ‘efek rumah kaca’ yang berefek pada kehidupan saya.

baiklah, mari kita mulai. setiap pagi saya meninggalkan rumah menuju sekolah yang durjanawati menggunakan mobil pribadi. harap pembaca ketahui bahwa saya memiliki lumayan banyak cd mulai dari yang mainstream seperti RAN sampai yang eksperimental seperti Santamonica. tetapi hanya ada satu, ya, satu yang selalu saya putar setiap pagi. baik mendung, panas, cerah, maupun pagi berkabut. satu cd hitam ini memiliki rasa yang jika digambarkan, seperti kopi pahit starbucks yang berukuran mini. mungil tapi efeknya jauh lebih terasa dibandingkan frappucinno venti sekalipun.
band kehormatan ini adalah efek rumah kaca.
cholil, akbar, dan adrian adalah orang-orang jenius yang berada dibalik nama yang aneh tersebut. mereka bermain musik dengan sangat sederhana. tiga instrumen dan sebuah vokal ciamik. dunia boleh berkata mereka adalah radiohead-ripoff ataupun teman saya yang berselera LAGU LAGU NGEMO berkata bahwa band ini tak dapat dinikmati. TETAPI SAYA TIDAK. band ini hampir menjadi bagian hidup saya. di ipod. di handphone. nada dering. bahkan ring back tones! band ini ada saat saya mensyukuri kemenangan, menangisi kekalahan, menyayat tanggan dengan jangka tumpul *beneran siah! haha ghobhloknyha saya*, bahkan menemani saya menjelang tidur.
sekarang pertanyaannya adalah:
apakah efek rumah kaca yang membuat saya berubah?
apakah keefektifitasan efek dari efek rumah kaca telah berefek kepada kehidupan saya? 
bahkan sebenarnya komentar pertama saya saat mendengarkan lagu melankolia adalah:
“IH. KAYAK TEMBANG SETAN.”
apakah efek rumah kaca yang menyebabkan saya menjadi lebih emosional dan cengeng? apakah efek rumah kaca yang menyebabkan saya menjadi sering sendirian dan cenderung antisosial? apakah efek rumah kaca yang menyababkan mimpi saya cenderung absurd akhir-akhir ini?
mungkin jawabannya tidak, bukan itu penyababnya.
tetapi jika iya. maka saya akan membiarkan diri saya menjadi tambah gloomy dan antisosial. karena efek rumah kaca adalah racun. racun yang membius saya perlahan dengan melodi mereka yang terlalu sederhana untuk menjadi dongeng sebelum tidur sekalipun. efek rumah kaca adalah narkoba. efek rumah kaca sudah mengakar dan menjalar di tubuh saya. semua lagu mereka bermakna, sebagian merupakan cerminan hidup saya (coba dengarkan insomnia).

Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Secara umum iklim merupakan hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik dimana parameter-parameternya adalah seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi  pada suatu tempat di muka bumi. Iklim merupakan suatu kondisi rata-rata dari cuaca, dan untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, diperlukan nilai rata-rata parameterparameternya selama kurang lebih 10 sampai 30 tahun. Iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini berawal dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu. Perpaduan antara proses-proses tersebut dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita pada kenyataan bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah, intensitas dan distribusinya. 
Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi –disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.
Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca
Peristiwa alam ini menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia, karena jika tidak ada ERK maka suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.
Berubahnya komposisi GRK di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi. Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global.
Sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya. Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.
erk2
Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan suhu, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis pantai, musim kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin singkat, namun semakin tinggi intensitasnya, dan anomaly-anomali iklim seperti El Nino – La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hal-hal ini kemudian akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan, pengungsian besar-besaran, gagal panen, krisis pangan, banjir, wabah penyakit, dan lain-lainnya

PEMANASAN GLOBAL DAN UPAYA-UPAYA SEDERHANA DALAM MENGANTISIPASINYA


Dalam beberapa tahun belakangan ini perbincangan tentang isu Pemanasan Global’ bukan lagi monopoli para Aktivis Lingkungan, para kepala pemerintahan di berbagai negara, tapi juga sudah menjadi perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat awam. istilah-istilah dan kalimat “Climate Change” dan “Pemanasan Global” tampaknya juga sudah mulai akrab ditelinga kita dan hampir tiap hari bisa kita temukan baik di koran, majalah, TV, internet, billboard, poster, spanduk maupun di tempat-tempat umum lainnya seperti di mall, pasar, terminal, pusat rekreasi, kantor, sekolah, dll. Mungkin kalau kita coba menanyakan hal tersebut kepada seseorang yang kebetulan kita jumpai ditengah jalan barangkali kita akan memperoleh jawaban yang lugas tentang hal tersebut, walaupun mungkin pemahaman orang tersebut tentang hal yang dimaksud hanya sepenggal-sepenggal dan kulit luarnya nya saja.
Walaupun demikian, hal tersebut setidaknya sudah mengisyaratkan dan menunjukkan kepada kita bahwa ditengah masyarakat kita saat ini, ternyata sudah ada pemahaman serta rasa keprihatinan, bahkan rasa ketakutan yang cukup mendalam tentang “hantu” yang disebut pemanasan global atau climate change, yang diyakini suatu waktu akan datang dan dapat mengancam kehidupan umat manusia di bumi. Persepsi yang demikian adalah tidak keliru bila dikaitkan dengan berbagai isyarat/tanda-tanda dan fenomena alam yang muncul akhir-akhir ini dengan silih berganti seolah tak henti menghampiri kita. Sebut saja banjir, rob, erosi pantai, intrusi air laut, kekeringan yang panjang, suhu yang sangat ekstrim yang kita rasakan sehari-hari, puting beliung, badai dahsyat, dll.
Seperti diketahui Perubahan iklim (climate change) adalah gejala naiknya suhu permukaan bumi akibat naiknya intensitas efek rumah kaca yang kemudian menyebabkan terjadinya pemanasan global. Kenaikan suhu udara ini dipicu oleh semakin tingginya kadar Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer, diantaranya oleh CO2 yang banyak dihasilkan dari aktivitas manusia seperti kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (mis: minyak, gas, batubara) yang banyak digunakan untuk industri, transportasi, rumah tangga, pembangkit, dll. Menurut para ahli, dalam waktu 70 tahun sejak tahun 1940 suhu udara rata-rata di bumi diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 0,50 C. Pemanasan global akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub, kemudian gelombang panas akan mengacaukan iklim dan menimbulkan badai dahsyat yang dapat memporakporandakan bangunan di berbagai kota.
Disadari atau tidak fenomena pemanasan global tersebut sebagian besar adalah akibat dari ulah aktivitas manusia di bumi yang kelewat tinggi sejalan dengan trend gaya hidup manusia modern, dimana setiap hari kita saksikan jutaan industri dan kendaran bermotor memuntahkan gas-gas polutan ke atmosfer khususnya CO2. Kondisi atmosfer kita saat ini ibaratnya seperti keranjang sampah raksasa, yang berfungsi sebagai wadah dari bermacam-macam gas yang dimuntahkan dari bumi. Kondisi ini semakin diperparah dengan semakin tingginya laju pemusnahan vegetasi/pohon oleh manusia yang ada di bumi, seperti pembalakan hutan yang seakan tiada hentinya, yang tidak diimbangi dengan upaya-upaya pemulihan dan pelestarian, sehingga diluar kemampuan alam untuk menetralisir & mendaurulang kembali gas-gas tersebut.
Dengan kondisi atmosfer kita yang demikian, Lantas hal-hal apa kiranya yang dapat kita lakukan dalam upaya mengantisipasi atau minimal memperlambat fenomena pemanasan global tersebut sehingga tidak semakin parah?
Dewasa ini bila kita perhatikan, secara perlahan namun pasti, tampaknya telah mulai tumbuh kesadaran masyarakat secara global khususnya di Negara-negara maju untuk mulai mengoreksi, kemudian mengadakan perubahan mendasar dalam semua pola pandang serta gaya hidup (Life Style) yang selama ini dipraktekkan, khususnya dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya. Oleh karena itu, jangan heran saat ini hampir semua aktivitas ataupun kegiatan mereka, termasuk gaya hidupnya banyak yang sudah bernuansa lingkungan. Segi-segi lingkungan tampaknya hampir melekat di semua bidang dan sendi kehidupan mereka. Hampir semua kegiatan pembangunan dan aktivitas mereka juga diupayakan berorientasi lingkungan. Pola hidup mereka sudah mulai lagi berpaling ke alam (Back to Nature).
Demikian juga akhir-akhir ini telah banyak bermunculan gerakan-gerakan maupun program-program lingkungan baik yang diprakarsai oleh pemerintah, LSM, maupun masyarakat, yang pada dasarnya adalah merupakan wujud kepedulian, partisipasi dan tanggungjawab serta rasa keprihatinan yang mendalam dalam merespon perubahan lingkungan yang terjadi seperti halnya pemanasan global tersebut. Misalnya kita banyak mengenal dan mendengar istilah green consumer, green product, green building, green office (eco-office), green hospital, green campus, green market, green port, green citizen, green festival, sampai pada green lifestyle, dimana kesemuanya itu bermuara kepada adanya upaya-upaya manusia dalam melestarikan lingkungan dan penghematan sumberdaya alam sekaligus upaya-upaya untuk mengurangi pemanasan global.
Sebetulnya kita semua dapat berperan dalam upaya mengurangi pemanasan global tersebut sekecil apapun upaya yang kita lakukan. Upaya tersebut misalnya bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai Negara/pemerintah. Pada masyarakat kita misalnya sejak jaman dulu telah banyak dijumpai tradisi-tradisi ataupun kebiasaan serta pengetahuan dan budaya yang pada dasarnya sangat baik dalam pelestarian lingkungan, yang kita kenal dengan kearifan lokal (indigenous knowledge). Kearifan lokal tersebut saat ini lebih popular dengan istilah atau konsep 4 R (Recycling, Reuse, Reduce dan Repair ; / Recovery / Recuperation/Replant).
Nenek moyang kita jaman dahulu misalnya selalu memanfaatkan kembali limbah/sampah yang dihasilkan baik limbah rumahtangga maupun pertanian yang berupa bahan organik menjadi pupuk (Recycling), menggunakan kembali bahan-bahan atau alat-alat yang ada setelah dipakai (Re-Use), kemudian ada juga upaya penanaman kembali pohon-pohon yang sudah ditebang dihutan (replanting) ataupun reboisasi. Kegiatan ini disamping dapat melestarikan lingkungan, juga sekaligus dapat menghemat penggunaan sumberdaya alam (efisiensi).
Di lingkungan rumah, kita juga dapat berperan dalam mengatasi dan mengantisipasi pemanasan global tersebut dengan upaya sederhana, misalnya dengan mulai memilah sampah yang kita hasilkan sehari-hari antara sampah organik dan anorganik, penghematan air yang digunakan (mandi, cuci, minum, menyiram tanaman, cuci mobil, dll), penghematan sumber energy listrik (mis: penerangan, kulkas, TV, mesin cuci, computer, dll). Matikan lampu penerangan bila tidak digunakan terutama siang hari, gunakan kembali barang2 bekas yang masih dapat dimanfaatkan (mis: botol, plastik, dll). Upayakan membeli semua peralatan rumah tangga yang hemat energy dan ramah lingkungan (mis: kulkas, mobil, dll). Bahkan saat ini telah mulai ada trend terutama di kota-kota besar rumah-rumah yang memanfatkan sinar matahari sebagai sumber energi, terutama untuk penerangan.
Manfaatkan lahan-lahan atau pekarangan yang ada di lingkungan rumah sedapat mungkin untuk ditanami, sekecil apapun lahan yang tersedia, hiasi rumah kita dengan tanaman-tanaman di pot, bila lahan masih cukup tersedia upayakan dibuat sumur resapan ataupun biopori untuk menampung air hujan agar tidak sia-sia terbuang ke laut. Disamping itu, sumur resapan dapat berfungsi sebagai cadangan air yang dapat mengisi kembali air tanah yang sangat dibutuhkan pada saat musim kemarau panjang tiba.
Tampaknya kegiatan-kegiatan sebagaimana disebutkan diatas adalah sangat sederhana, namun bila semua rumahtangga melakukan hal yang sama katakanlah dalam suatu kota/wilayah, bahkan dalam lingkup Negara-negara di dunia, dampak dan kontribusinya sangat luar biasa bagi upaya kita dalam melestarikan lingkungan, sekaligus mengurangi Pemansan Global tersebut. Mengapa kita tidak memulainya dari sekarang?

Global Warming dan Gas Rumah Kaca : Pengertian, Penyebab, Efek, Cara mengatasi



LATAR BELAKANG
Semenjak manusia zaman purbakala sampai dengan zaman sekarang, manusia selalu mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang dilewatinya. Peradaban manusia sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan dengan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Melalui orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Manusia sekarang telah mengalami zaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan pada bidang perindustrian. Dengan menggunakan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran secara perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia dan kehidupannya.Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat saat ini. Dampak negatif ini
adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, masalah Global Warming ini tidaklah dapat diungkiri untuk diteliti dan diteliti lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
GLOBAL WARMING
Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Quote:
Penyebab Pemanasan Global
1.Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
2.Efek Umpan Balik
nasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan
Ini Beberapa Kejadian Dari Dampak Global Warming
1. KEBAKARAN

Analisa = Kebakaran hutan biasa nya d sebabkan meningkat nya permukaan suhu d daerah tersebut akibat efek dari pemanasan global. terjadi di waktu musim kemarau
2. ES YANG MELELEH

Analisa = mencairnya es d kutub d sebabkan suhu yang meningkat secara drastis sehingga dapat melelehkan es d kutub
3. PERMUKAAN AIR LAUT YANG MENINGGI

Analisa = meningkat nya tinggi permukaan laut ini d sebabkan oleh air es yang telah mencair dari arah kutub
Global Warming mempercepat penyebaran penyakitPemanasan Global saat ini sudah mencapai taraf yang mencemaskan. Namun bahaya laten lain yang perlu kita waspadai adalah naiknya temperatur bumi ini akan berakibat pada banyaknya pandemik microba – microba dan juga virus – virus mulai menyebar di lingkungan manusia maupun hewan.
1. Avian Influenza
Seperti influenza pada manusia, virus avian influenza terjadi secara alamiah pada burung liar, namun tidak membahayakan. Virus ini masuk ke burung melalui feses dan hasil sekresi. Unggas dapat menularkan virus dari burung peliharaan ataupun burung yang liar. Tingginya tingkat patogen dari penyakit H5NI merupakan perhatian utama bagi pemerintah dan organisasi kesehatan saat ini, karena sangat mematikan bagi burung liar, manusia. Bahkan penularan virus yang semula hanya dari burung ke manusia dapat meningkat dari manusia ke manusia. Perpindahan H5N1 dari negara ke negara biasanya dari perdagangan unggas. Namun perubahan iklim seperti badai salju yang parah dapat mengganggu perpindahan normal burung liar dan dapat membawa populasi kedua burung liar dan peliharaan ini menuju sumber air yang dekat dengan manusia.
2. Kolera
Kolera adalah penyakit diare disebabkan oleh air yang mempengaruhi manusia terutama di negara berkembang. Hal ini disebabkan oleh bakteri, Vibrio cholera, yang bertahan dalam organisme kecil di sumber air yang terkontaminasi dan mungkin juga muncul dalam bentuk kerang mentah seperti tiram. Setelah terinfeksi, kolera dengan cepat menjadi mematikan. Hal ini sangat bergantung pada temperatur, dan kenaikan suhu air secara langsung.
3. Ebola
Virus Ebola merupakan virus demam berdarah dan sangat dekat dengan demam virus Marburg yang mudah membunuh manusia, gorila, dan simpanse, dan saat ini belum bisa disembuhkan. Para ilmuwan terus bekerja untuk menemukan sumber penyakit dan untuk mengembangkan vaksin untuk perlindungan. Ada bukti yang signifikan bahwa wabah kedua penyakit yang berhubungan dengan variasi yang tidak biasa dalam curah hujan / pola musim kemarau. Seperti perubahan iklim dan musim yang ekstrim.
4. Parasit eksternal dan Usus
Parasit yang secara meluas hidup di seluruh lingkungan terestrial dan perairan. Pada suhu dan curah hujan dengan tingkat pergeseran musim yang tinggi, kelangsungan hidup parasit dalam lingkungan akan meningkat di banyak tempat, terjadi peningkatan infeksi jumlah manusia dan hewan. Banyak jenis parasit yang zoonosis, tersebar antara satwa liar dan manusia. Nematoda, Baylisascaris procyonis, disebarkan oleh rakun umum dan sangat mematikan bagi banyak spesies lain satwa liar dan manusia.
5. Wabah
Wabah, pestis Yersinia – salah satu penyakit menular tertua yang dikenal-masih menyebabkan tingkat kematian yang signifikan dalam satwa liar, hewan domestik, dan manusia di lokasi tertentu. Wabah ini disebarkan oleh tikus dan kutu. Perubahan dalam suhu dan curah hujan mengubah distribusi populasi tikus di seluruh dunia, yang akan berdampak pada berbagai penyakit hewan pengerat kelahiran seperti wabah
6. Rift Valley Fever
Demam virus Rift Valley (RVFV) adalah penyakit zoonosis yang muncul menggangu kesehatan publik secara signifikan, ketahanan pangan, dan kepentingan ekonomi secara keseluruhan, khususnya di Afrika dan Timur Tengah. Pada ternak yang terinfeksi seperti sapi, domba, kambing dan unta, aborsi dan tingkat kematian yang tinggi adalah merupakan hal yang biasa. Pada orang (yang bisa terinveksi virus dari menyembelih hewan yang terinfeksi), penyakit ini bisa berakibat fatal. Mengingat peranan nyamuk dalam penularan virus, perubahan iklim terus dikaitkan dengan kekhawatiran penyebaran RVFV.
7. Tuberkulosis
Tuberkulosis sapi menyebar melalui perpindahan ternak di seluruh dunia. Sekarang memiliki distribusi global dan bermasalah terutama di Afrika, di mana ia diperkenalkan oleh ternak Eropa di tahun 1800-an. Penyakit ini menginfeksi populasi satwa liar penting, seperti kerbau dan singa di Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan, di mana pariwisata merupakan bagian integral dari ekonomi lokal. Penyakit ini juga menginfeksi manusia di Afrika selatan melalui konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi. Bentuk tuberkulosis manusia juga dapat menginfeksi binatang liar. Dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air karena kekeringan cenderung meningkatkan kontak satwa liar dan ternak pada sumber air yang terbatas, mengakibatkan meningkatnya penularan penyakit antara ternak dan satwa liar dan ternak dan manusia.
8. Demam kuning
Ditemukan di daerah tropis Afrika dan bagian dari Amerika Tengah dan Selatan, virus ini dibawa oleh nyamuk, yang akan menyebar ke daerah baru sebagai perubahan suhu dan tingkat curah hujan di atas ambang normal. Salah satu jenis demam virus kuning hutan dapat menyebar dari primata ke manusia dan sebaliknya melalui nyamuk yang memakan darah manusia dan primata. Wabah terbaru di Brazil dan Argentina memiliki dampak yang menghancurkan pada populasi primata liar. Di beberapa negara di Amerika Selatan, pemantauan primata liar telah menghasilkan deteksi dini dari aktivitas penyakit dan memungkinkan untuk program vaksinasi serta harus cepat diterapkan untuk melindungi manusia.
Inilah Yang Harus kita Lakukan
Ada bermacam cara memperlambat dampak pemanasan global, cara-cara tersebut umumnya mudah dan sederhana. Tetapi kurang dilakukan secara serius oleh kebanyakan orang.1. Batasi Penggunanaan kertas
Tanamkan di pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.
2. Ganti bola lampu.
Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya daya listrik yang anda pakai maka anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.
3. Buka jendela lebar-lebar
Di Amerika , sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Unutk meminimalkannya ketika dapat mengatur termostat AC dengan suhu udara di luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang terjebak dapat mengkonsumsi energi.
4. Gunakan pupuk organik.
Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, murah pula.
5. Tanamlah rumpun bambu
Pepohonan memang terbukti mampu menyerap CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerap CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lain.
6. Naik kendaraan umum
Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca,
7. Jangan pakai kantong plastik
Di beberapa Negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bahkan sampai dibuat undang-undangnya segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah Negara setempat unutk melarang penggunaan kantong plastic sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah.
Efek Gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.
8. Hidup efisien
Apapun aktifitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya.
9. Mengemudi cerdas
Hindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, bila mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila anda menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai.
pesan dari bumi

andai aku dapat berbicara aku pasti akan mengatakan jagalah aku rawat lah aku dan selamatkan lah aku.
Karena aku telah menyediakan apa yang kamu perlukan

Forum CSS, Upaya Pengurangan Emisi Akibat Gas Rumah Kaca


EBTKE-- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) Darwin Zahedy Saleh membuka acara Forum Carbon Capture Storage (CCS) di Kementerian ESDM. Forum ini bertujuan sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai teknologi CCS serta membangun diskusi yang konstruktif di antara seluruh pemangku kepentingan di Indonesia dengan para praktisi CCS dunia.

MESDM Darwin Zahedy Saleh, dalam sambutannya mengatakan peningkatan kadar CO2 terkait dengan penggunaan energi fosil. "Meski upaya meningkatkan pangsa energi non fosil terus meningkat, namun dunia masih tergantung pada bahan bakar fosil,"ujar dia, Rabu 23 Maret 2011. Ketergantungan ini, lanjut dia, diperkirakan akan terus berlanjut untuk beberapa dekade mendatang. Oleh karena itu, dunia berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan energi, namun tetap menghindari atau setidaknya meminimalkan dampak kenaikan efek rumah kaca."Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai pengurangan emisi CO2 sebesar 26 persen pada tahun 2020,"tutur Darwin.

Menurut Darwin, untuk itu telah dilakukan berbagai upaya seperti pengembangan energi terbarukan. Namun untuk memenuhi target ini, terdapat sejumlah tantangan yaitu mengembangkan teknologi yang memungkinkan terus menggunakan teknologi fosil tanpa CO2, biaya rendah sekaligus mempertahankan daya saing industri di pasar global guna meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan sumber energi terbarukan, harus dikombinasikan dengan teknologi karbon berskala rendah seperti CCS, sehingga  menjadi ’Trias Energitica’ dalam portofolio energi nasional.

Proyek CCS skala besar seperti Waybun-Midale (Kanada), Salah (Algeria), Sleipner dan Snohvit (Norwegia) telah mencegah jutaan ton CO2 ke atmosfir.

Dalam Forum CCS ini, Lemigas Kementerian ESDM mempresentasikan kemungkinan implementasi teknologi CCS di Kalimantan Timur. Selain itu, juga akan dipaparkan perkembangan terkini teknologi CCS di dunia dan aspek kebijakan dan perangkat peraturan yang terkait CCS di luar negeri.

”Saya mendorong forum ini digunakan untuk berbagi pengetahuan, memfasilitasi penyebaran teknologi, mempercepat inovasi, mengurangi risiko dan meningkatkan kesadaran publik mengenai CCS,” katanya.

CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi perubahan iklim yang berpotensi mengurangi emisi CO2 skala besar hasil pembakaran bahan bakar fosil. Teknologi ini merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari menangkap CO2 (capture) dari sumber-sumber CO2 seperti fasilitas pengolahan gas alam dan pembangkit listrik dan kemudian mentransportasikannya ke lokasi penyimpanan CO2 di formasi geologi yang sesuai (storage).(ferial)

Study Penentuan Konsentrasi CO dan Gas Rumah Kaca Di Wilayah Indonesia

Perubahan iklim merupakan tantangan paling serius yang dihadapi dunia pada saat ini.
Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi mutakhir memperlihatkan bahwa
masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia yang
mana temperatur dibumi telah naik secara cepat, perubahan iklim juga dipengaruhi oleh
aktivitas matahari dan ozon serta kegiatan vulakanik dan sulfat. Namun sejak tahun 1960-an,
penyebab utama naiknya temperatur bumi adalah akibat efek rumah kaca yang menurut
sebagian ahli disebabkan oleh meningkatnya kandungan gas karbon dioksida dan partikel
polutan lainnya di atmosfer bumi. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi
gas-gas rumah kaca. Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan
untuk dapat menyerap radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga menyebabkan
suhu dipermukaan bumi menjadi hangat. Menurut konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim
(United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC), ada 6 jenis gas
yang digolongkan sebagai GRK, yaitu: karbondioksida (CO2), dinitro oksida (N2O ), metana
(CH4), sulfurheksaflorida (SF6), perflorokarbon (PFCs), dan hidroflorokarbon (HFCs). Gas
rumah kaca berbeda dengan polutan dari segi jangka waktu dampak. Polutan secara langsung
berdampak pada makhluk hidup, sedangkan gas rumah kaca berdampak tidak langsung.
Melalui perantara proses di dalam lingkungan biogeokimia, gas-gas rumah kaca baru
berdampak pada makhluk hidup dan memiliki life time yang relatif lama.
Sifat gas rumah kaca adalah menaikkan suhu bumi dengan cara menangkap radiasi
gelombang pendek dari matahari dan memantulkannya ke bumi. Gas rumah kaca juga
memantulkan radiasi gelombang panjang ke bumi, sehingga bumi seakan-akan mendapatkan
pemanasan dua kali. Dampak dari gas rumah kaca adalah pemanasan global dan efek rumah
kaca. Sedangkan dampak turunan dari pemanasan global salah satunya adalah perubahan
iklim. Naiknya suhu rata-rata bumi adalah salah satu bukti telah terjadi perubahan iklim.
Pemanasan global ini pun mendapatkan radiasi matahari tambahan lagi karena terdapatnya
lubang ozon. Penipisan ozon mengakibatkan radiasi sinar ultraviolet dari matahari yang
masuk ke bumi semakin besar intensitasnya.
Gas rumah kaca dari emisi antropogenik berasal dari beberapa sumber dilihat dari
beberapa sektor, yaitu sektor energi: pemanfaatan bahan bakar fosil seperti minyak bumi,
batu bara dan gas secara berlebihan dalam berbagai kegiatan merupakan penyebab utama
dilepaskannya emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Pembangkitan listrik, penggunaan alat-alat
elektronik seperti AC, TV, komputer, penggunaan kendaraan bermotor dan kegiatan industri
merupakan contoh kegiatan manusia yang meningkatkan emisi GRK di atmosfer. Sektor
kehutanan : kegiatan pengrusakan hutan, penebangan hutan, perubahan kawasan hutan
menjadi bukan hutan, menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya
disimpan di dalam pohon. Sektor pertanian dan peternakan : Dari sektor pertanian, emisi
GRK terutama metana dihasilkan dari sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk,
pembakaran padang sabana, dan pembusukan sisa-sisa pertanian. Dan dari sektor peternakan,
emisi GRK berupa gas metana (CH4) dilepaskan dari kotoran ternak yang membusuk. GRK
berupa metana juga dihasilkan dari sampah.
Menurut IPCC (Intergovernmental On Panel Climate Change) menyatakan jika laju
emisi gas rumah kaca ini dibiarkan terus tanpa terdapat tindakan untuk menguranginya, maka
suhu global rata-rata akan meningkat dengan laju 0.30C setiap 10 tahun. Suhu global rata-rata
tahun 1890 adalah 14.50C dan pada tahun 1980 naik menjadi 15,20C. Menurut Rataq et al
(1998) menyatakan untuk Indonesia kenaikan suhu hanya sekitar 0 sampai 1 derajat.
Sementara skenario dari Peter Whetton (1993) dengan menggunakan model GCM untuk
wilayah Indonesia dihasilkan adanya peningkatan suhu sekitar 0.10C – 0.50C pada tahun 2010
dan tahun 2070 sekitar 0.40C – 3.00C. Indonesia pernah dikejutkan oleh sebuah hasil
penelitian Wetlands Internasional, organisasi yang bergerak di bidang pelestarian dan
pengelolaan lahan basah di dunia, serta Laboratorium Hidrolika di Delft, Belanda yang
menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara penghasil emisi karbondioksida (CO2) terbesar
ketiga didunia setelah Amerika Serikat dan Cina dengan kuantitas emisi yang dihasilkan
mencapai dua miliar ton karbondioksida pertahunnya atau menyumbang sepuluh persen dari
emisi karbondioksida di dunia yang mana salah satu penyumbang terbesarnya adalah
kebakaran hutan dan lahan. Namun hasil penelitian ini banyak digugat oleh peneliti di
Indonesia, salah satunya adalah Sri Woro B harijono (Kepala BMG) menyatakan bahwa
“penelitian itu tidak didukung oleh penilaian ilmiah yang memadai, hasil pemantauan BMG
hingga tahun 2007, emisi karbon dioksida Indonesia secara perkapita masih dibawah standar
kapita global, sampai saat ini fakta ilmiah yang menyebutkan Indonesia sebagai emitter
ketiga terbesar didunia sangatlah lemah, pemantauan di stasiun pengamat dirgantara
kototabang, sumatera barat menunjukan kenaikan tapi masih dibawah standar dunia yang
mengacu pada stasiun pantau di kepulauan hawaii”.
Berdasarkan analisis dan penelitian di atas maka kami sebagai tim dalam penelitian
ini sangat tertarik untuk dapat mengkaji dan menentukan emisi dan konsentrasi gas rumah
kaca khususnya di wilayah Indonesia yang mana belum banyak dilakukan oleh peneliti di
Indonesia. Penelitian kami ini bertujuan untuk mengkaji dan menentukan emisi dan
konsentrasi gas rumah kaca (GRK) serta proyeksinya di beberapa wilayah di Indonesia
berbasis model/perumusan IPCC, khususnya CO2 di Indonesia sehingga diperolehnya besar
emisi dan konsentrasi gas rumah kaca, khususya CO2 di wilayah Indonesia dan
model/program perhitungan GRK berbasis perumusan atau metode IPCC.
Dalam penelitian ini kami menggunakan berbagai data dari beberapa sumber, antara
lain adalah; data statistik energi Indonesia, data statistik kehutanan indonesia dan dunia, data
statistik industri di Indonesia, data jumlah dan proyeksi penduduk di indonesia, data emisi
CO2 global sektor energi di indonesia dari cdiac pada tahun 1971 – 2004, data statistik
peternakan dan perhubungan di indonesia, data konsentrasi GRK dari GAW (Global
Atmospheric Watch) di Kototabang dan seluruh stasiun GAW di dunia, dan data lain-lain
yang menunjang penelitian ini. Data-data yang ada diolah/diestimasi untuk menentukan nilai
emisi gas rumah kaca menggunakan metode IPCC 1996, lalu nilai tersebut di analisis. Begitu
juga nilai data konsenterasi gas rumah kaca dari GAW di plot grafiknya per bulan dan per
tahun kemudian grafiknya di analisis.
Pada penelitian ini, kami sudah melakukan pengolahan data dan perhitungan emisi
gas rumah kaca (CO2, N2O dan CH4) di Indonesia dari sektor energi. Data konsumsi energi
diperoleh dari buku statistik energi Indonesia yang dikeluarkan PEUI (Pengkajian Energi
Universitas Indonesia) dan Handbook statistik ekonomi dan energi di Indonesia yang
dikeluarkan oleh DESDM (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral) pada tahun 2006.
Jadi perhitungan emisinya sampai tahun 2005 sesuai data yang tersedia yaitu sampai tahun
2005. Emisi dihitung dengan menggunakan perumusan IPCC yaitu emisi x (CO2 atau N2O
atau CH4) = konsumsi energi dikalikan dengan faktor emisi x (CO2 atau N2O atau CH4). Yang
mana hasilnya bahwa emisi CO2 dari bahan bakar petroleum lebih besar di bandingkan bahan
bakar lain (batubara, gas dan biomassa). Rata-rata emisi CO2 dari bahan bakar tersebut
mengalami kenaikan baik sampai sekarang ataupun proyeksi kedepannya. Hal ini karena di
proyeksikan konsumsi bahan bakar kedepan semakin meningkat. Berbeda dengan emisi N2O
yang menyatakan bahwa emisi N2O dari bahan bakar batubara lebih besar di bandingkan
bahan bakar lainnya, dan emisinya juga cenderung meningkat. Sedangkan emisi CH4
menunjukan bahwa emisi CH4 dari biomassa lebih tinggi di bandingkan bahan bakar lainnya.
Emisi dari bahan bakar lainnya tidak terlalu mengalami kenaikan.
Dari hasil penelitian ini juga memperlihatkan perbandingan antara gas CO2, CH4 dan
N2O, dimana walaupun nilai GWP (Global Warming Potential) atau indek pemanasan global
CO2 dan N2O lebih besar dibandingkan dengan CO2 namun nilai emisinya masih jauh lebih
kecil dibawah CO2. GWP CH4 adalah 21 artinya 1 CH4 indeks pemanasannya sama dengan
21 kali CO2 dan GWP N2O adalah 310 artinya 1 N2O indeks pemanasannya sama dengan 310
kali CO2. Rata-rata pertumbuhan emisi CO2 adalah sekitar 4.67%/tahun, dan rata-rata
pertumbuhan emisi N2O dan CH4 adalah 3.32%/tahun dan 1.76%/tahun seperti terlihat pada
gambar 6, tahun 1997 ke 1998 emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, dan N2O) mengalami
penurunan, hal ini dikarenakan pada tahun 1998 di Indonesia terjadi krisis moneter yang
cukup besar sehingga pemakaian energi pada tahun tersebut berkurang. Namun pada tahun
1998 ke 1999 dan tahun 2004 ke 2005, emisi CO2 mengalami kenaikan yang cukup besar
yaitu 7.26% dan 7.88%, hal ini dikarenakan pemakaian energi yang cukup besar pada tahuntahun
tersebut. N2O dan CH4 juga mengalami kenaikan yang cukup besar yaitu pada tahun
2000, berturut-turut sebesar 5.94% dan 3.07%.
Penelitian ini juga menghitung emisi dari sektor hutan dan kebakaran hutan dengan
menggunakan data statistik kehutanan Indonesia yang dihitung dengan menggunakan metode
IPCC, dimana jumlah luas kebakaran hutan dikalikan dengan faktor emisinya. Dari estimasi
yang dilakukan diperoleh bahwa tahun 1995-1998 emisi CO2 akibat kebakaran hutan di
Indonesia cukup tinggi mencapai 10 jutaan ton dan terjadi penurunan pada tahun 2000
mencapai 57 ribuan ton seperti terlihat pada gambar 1. Fluktuasi penurunan dan kenaikan
emisi CO2 sama juga dengan emisi CH4 dan N2O. Gambar 2 menunjukan emisi dari
kebakaran hutan perwilayah di Indonesia, dari gambar terlihat bahwa daerah kalimantan
timur cukup sering terjadi kebakaran hutan yang membuat emisinya juga cukup besar,
bahkan mencapai 10 jutaan ton. Dari perhitungan, rata-rata emisi N2O dari hutan di setiap
propinsi di Indonesia pada tahun 2000 dan 2005, dimana daerah Irian Jaya sangat besar
emisinya mencapai 250.486 ton pada tahun 2000 dan sekitar 150 ribuan ton pada tahun 2005,
kemudian diikuti oleh Kalimantan Timur mencapai 63.019 ton pada tahun 2000 dan 60
ribuan ton pada tahun 2005. Hal ini ditaksir memang terjadi karena daerah tersebut masih
banyak hutannya, dan setiap tahun hampir selalu terjadi deforestrasi dan kebakaran hutan.
Emisi N2O dari total hutan di Indonesia pada tahun 1997 menurun tajam berkisar 60.000 ton
dan kemudian meningkat lagi sampai mencapai 140 ribu ton pada tahun 2005, seperti terlihat
pada gambar 3. Laju kebakaran hutan per tahun di wilayah Indonesia yang dihitung dari
tahun 1984-2003, menunjukan bahwa daerah yang sering terjadi kebakaran hutan adalah
wilayah Kalimantan Timur mencapai 30.476 hektar per tahun, lalu wilayah Sumatera Selatan
sekitar 8.302 hektar dan wilayah jawa tengah berkisar 6.735 hektar per tahun, sedangkan
wilayah yang hampir tidak ada kebakaran hutan adalah wilayah DKI Jakarta, hal ini memang
bisa terjadi karena di wilayah DKI Jakarta hampir tidak ditemukan adanya hutan. Total
keseluruhan laju kebakaran hutan per tahun di Indonesia mencapai 90.805 hektar per tahun.
Laju kebakaran hutan berbanding lurus dengan laju emisi gas rumah kaca, semakin besar
jumlah kawasan hutan yang terbakar maka akan semakin besar juga emisi gas rumah
kacanya, Sehingga laju emisi gas rumah kaca ketiga terbesar adalah wilayah Kalimantan
Timur, Sumatera Selatan dan Jawa Tengah. Dimana nilai laju emisinya adalah; Kalimantan
Timur (CO2=5.778.432 ton per tahun, CH4=5.485 ton per tahun, N2O=173 ton per tahun),
Sumatera Selatan (CO2=157.409 ton per tahun, CH4=1.494 ton per tahun, N2O=47 ton per
tahun), dan Jawa Tengah (CO2=127.709 ton per tahun, CH4=1.212 ton per tahun, N2O=38 ton
per tahun). Laju emisi gas rumah kaca dari kebakaran hutan per tahun di Indonesia adalah;
CO2 sebesar 1.721.664 ton per tahun, CH4 berkisar 16.344 ton per tahun dan N2O sebesar 517
ton per tahun.
Emisi CO2 dari Kebakaran Hutan di Indonesia
0
2000000
4000000
6000000
8000000
10000000
12000000
1984
1986
1988
1990
1992
1994
1998
2000
2002
Tahun
Emisi CO2 (Ton)
Emisi CO2 dari Kebakaran Hutan di Wilayah Indonesia (1984-2003)
1
10
100
1000
10000
100000
1000000
10000000
Tahun
Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan
Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Yogyakarta
Jawa Timur Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara
Maluku Papua
Gambar 1. Emisi CO2 dari Kebakaran hutan di
Indonesia (1984-2003)
Gambar 2. Emisi CH4 dari Kebakaran hutan di
Indonesia (1984-2003)
Emisi N2O dari Hutan di Indonesia (1983-2005)
0
20,000
40,000
60,000
80,000
100,000
120,000
140,000
160,000
1983
1985
1987
1989
1991
1993
1995
1997
1999
2001
2003
2005
Tahun
emisi N2O (Ton)
Gambar 3. Emisi N2O total dari hutan di Indonesia (1983-2005)
Penelitian ini juga telah mengestimasi gas CO2, CH4 dan N2O yang diemisikan dari
penggunaan energi oleh industri, jadi bukan dari proses industri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari tahun 1990 sampai 2003 emisi gas CO2 yang terbesar berasal dari
konsumsi kayu bakar, sedangkan yang terkecil adalah dari konsumsi LPG. Ini bisa terjadi
karena konsumsi LPG termasuk yang paling kecil dibanding energi lain sehingga emisi gas
CO2 dari konsumsi LPG adalah yang paling kecil. Sedangkan koefisien emisi CO2 dari kayu
bakar adalah yang terbesar sehingga emisi gas CO2 dari konsumsi kayu bakar adalah yang
terbesar. Emisi metan (CH4) pada sektor industri dari konsumsi energi menunjukkan bahwa
emisi CH4 yang terbesar berasal dari konsumsi kayu bakar, sedangkan yang terkecil berasal
dari konsumsi LPG. Ini bisa terjadi karena koefisien emisi metan dari LPG termasuk yang
paling kecil dibanding energi lain, selain itu konsumsi LPG termasuk yang paling kecil
dibanding energi lain, sehingga emisi gas metan dari konsumsi LPG adalah yang paling
kecil. Sedangkan koefisien emisi metan dari kayu bakar adalah yang terbesar sehingga emisi
gas metan dari konsumsi kayu bakar adalah yang terbesar. Dari hasil perhitungan emisi gas
N2O pada sektor industri dari konsumsi energi menunjukkan bahwa emisi gas N2O yang
terbesar berasal dari konsumsi kayu bakar, sedangkan yang terkecil berasal dari konsumsi
LPG. Ini bisa terjadi karena koefisien emisi N2O dari LPG termasuk yang paling kecil
dibanding energi lain, selain itu konsumsi LPG termasuk yang paling kecil dibanding energi
lain, sehingga emisi gas N2O dari konsumsi LPG adalah yang paling kecil. Sedangkan
koefisien emisi N2O dari kayu bakar adalah yang terbesar sehingga emisi gas N2O dari
konsumsi kayu bakar adalah yang terbesar.
Hasil perhitungan emisi CO2 dari sampah yang terurai di kota-kota besar di Indonesia
nampak bahwa emisi gas CO2 yang terbesar adalah dari kota Jakarta, sedangkan yang
terkecil adalah dari Yogyakarta. Emisi gas metan dari sampah di kota-kota besar di Indonesia
yang terbesar adalah dari kota Jakarta, sedangkan yang terkecil adalah dari kota Yogyakarta.
Emisi metan dan CO2 dari sampah di kota Jakarta menunjukkan bahwa emisi metan lebih
besar dari pada CO2, dan dari tahun ke tahun emisi kedua GRK tersebut berfluktuasi. emisi
metan dan CO2 dari sampah di kota Bandung menunjukkan bahwa emisi metan lebih besar
dari pada CO2, dan dari tahun ke tahun emisi kedua GRK tersebut berfluktuasi. emisi gas
CO2 dan metan dari kota Jakarta-lah yang terbesar diantara Bandung, Medan, Surabaya,
Semarang dan Yogyakarta. Ini mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini dikarenakan
perkiraan produksi sampah di Jakarta dibanding kota-kota lainnya adalah yang terbesar,
maka emisi gas CO2 dan metan-pun yang terbesar.

Visitors

Designed by Animart Powered by Blogger